Petani sudah tidak berminat menanam padi sawah. Menanam padi tidak hanya perlu waktu. Paling cepat 3,5 bulan baru bisa panen. Tidak pas bagi petani dengan lahan sempit (dua-tiga petak). Disamping itu biaya produksi juga mahal, seperti benih, pupuk, dan obat-obatan. Itu pun biaya tenaga tidak dihitung dalam biaya produksi. Panen pun tidak menentu, banyak *musuh petani* yg harus ditangani. Penyakit yang disebabkan oleh jamur dan bakteri, juga hama dari walang sangit sampai wereng coklat yang makin nakal.
Oleh sebab itu petani tidak berminat lagi menanam padi. Petani pun beralih ke tanaman yang mudah budidayanya dan minim musuhnya. Salah satunya genjer.
Genjer ditanam dengan sistem petak-petak kecil agar tiap hari bisa panen. Dua petak sawah bisa dibuat 10 petak kecil. Dengan pengaturan umur tanam.
Pemetakan ini dapat mengatur waktu panen. Sehingga petani dapat memanen tiap harinya. Sore hari petani memanen satu petak kecil dan kemudian dicuci bersih di saluran air yang ada di samping petak. Setelah bersih genjer dibawa pulang.
Setelah maghrib sambil menonton TV suami istri dan dibantu anaknya menguntingi genjer tsb. Agar pagi sebelum subuh sudah siap dibawa ke pasar terdekat.
Pagi sebelum subuh sang suami istri menjual genjer ke pasar terdekat dengan dititipkan ke beberapa bakul kecil. Ada yang dijual di pasar lainnya yang biasanya dibayar cash. Berbeda yang dititipkan pada penjual di pasar tersebut. Setelah genjer habis, maka suami istri bergegas pulang ke rumah. Beberapa jam kemudian sang istri balik ke pasar kembali untuk mengambil uang dagangannya dari para bakul, sekalian belanja kebutuhan sehari hari. Uang di tangan sang istri tergenggam 150 ribu rupiah. Minimal 100 ribu yang petani dapat tiap harinya. Bila kita hitung 30 x 100 ribu maka per bulan pendapatannya 3 juta rupiah atau lebih. Melebihi gaji UMR Jateng atau UMK Banyumas.
Wajah ceria petani genjer sepanjang jalan dari pasar sampai rumah. Berbeda dengan petani sawah yang harus bergelut dengan biaya produksi dan harga gabah yang tak bersahabat lagi.
Banyumas, 20 Oktober 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar